Jika semua tindakan preventif gagal .....
Jika hukuman bagi pelaku kejahatan seksual - tidak menurunkan angka perkosaan.........
Jika Pemerkosa tertangkap , apakah tindakannya bisa dibuktikan?
Jika bisa dibuktikan , apakah pelaku akan dihukum sesuai tuntutan ?
Kalaupun pelaku dihukum sesuai dengan tuntutan apakah hukumannya sesuai dengan kehancuran yang dibuatnya?....................
...saatnya wanita melawan !
Banyak orang beranggapan bahwa jika anda sudah atau pernah belajar beladiri - maka anda mampu melawan penyerang anda.
Pengalaman membuktikan bahwa pelajaran dikelas beladiri-pada umumnya-tidak dipersiapkan untuk serangan kejahatan seksual.
Pelaku kejahatan seksual berbeda dengan penjahat....Mereka melihat anda sebagai "obyek" dan dalam banyak kasus anda baru melihatnya sebagai musuh ketika penyerang sudah berada diatas badan anda dan anda berada dibawah !
Ketika kita sudah mencoba untuk menghindar untuk tidak menjadi korban perkosaan , misalnya dengan tidak keluar malam sendirian, tidak berada ditempat yang sepi tanpa teman, mengawasi makanan/minuman kita, tidak bersama seseorang yang tidak benar-benar kita kenal....dan semua tindakan preventif lain yang baik - namun karena satu alasan gagal kita patuhi .....dan situasi anda saat itu berhadapan dengan pemerkosa, sendirian. Apa pilihan yang bisa anda kerjakan ?
Dalam situasi ini ada 3 (tiga) pilihan
3. Lari
2. Negosiasi
1. Lawan
1. Lawan
Beberapa orang setuju bahwa dalam situasi ini kita harus melawan. Untuk melawan - banyak pendapat menganggap kita harus secara formal terlatih. Ini pendapat yang kurang tepat. Kita harus memiliki kemauan untuk bertindak! Kemauan juga tidak cukup dengan aksi tapi dengan komitmen untuk menuntaskan perlawanan - apapun ongkosnya. Anda tidak boleh diperkosa.
Jika anda tidak terlatih - ingatlah untuk melawan pemerkosa, pedoman yang ada adalah :
1. Tendanglah kemaluannya
2. Hilangkan penglihatannya
3. Hilangkan kemampuan bernafasnya
4. Hentikan jantungnya
Lakukanlah - seperti apa yang dilakukan seekor kucing yang saat akan dimasukan dalam bak air.
3. Lari
Lari adalah tindakan yang harus kita ambil karena anda tidak perlu membuktikan siapa yang akan menang. Ini bukan pertandingan - anda tidak butuh menang. Anda hanya butuh ruang, kesempatan untuk pergi secepatnya. Namun bagaimana jika tidak ada kesempatan atau anda tidak bisa lari?
2. Negosiasi
Setelah lari bukan pilihan yang tersedia maka jawabannya tergantung siapa anda dan siapa penyerangnya. Pertahanan yang intelek bukanlah dengan fisik tapi negosiasi - komunikasi.
Berdasarkan studi - secara psikologis pemerkosa menyerang seseorang karena ia hidup dalam fantasinya. Fantasi yang dibuatnya sendiri dan menguasai seluruh pikirannya. Pemerkosa adalah seseorang yang tidak mampu mengembangkan arti hubungan antar manusia dengan benar.
Didalam fantasinya korban adalah objek. Objek yang tidak berkomunikasi. Merusak fantasi pemerkosa adalah pilihan kita. Caranya : anda bisa berpura-pura muntah, kencing atau apapun agar pelaku jijik.
Pelaku membayangkan anda merintih dan menangis saat niat bejatnya sedang dilaksanakannnya jadi sekalilagi rusak fantasinya misalnya dengan berteriak misalnya "Kamu akan kulaporkan kepada Orangtuamu - dan kau akan malu !", "Kamu tidak mau dipenjara - hentikan ini sebelum kamu menyesal !".
Pada bagian lain, secara psikologis pelaku menikmati sesuatu yang dirasakannya benar karena itu hindari penggunaan kata "Jangan" - karena semakin banyak kata "jangan" atau suara "Aaah...", "...Uhhh".....akan semakin mendorongnya kedepan. Sentuhlah nurani pelaku karena skenario yang ada di otak pelaku adalah "saya dan alat vital atau bagian tubuh anda sebagai objek".
Ganggulah pikirannya dengan kalimat yang membuat adanya hubungan antar manusia - sebagai "saya dan kau" . Buat pelaku melihat anda sebagai orang - bukan obyek. Didalam fantasinya - kita adalah objek yang tidak berkomunikasi - putuskan fantasi itu dengan mencoba membuat komunikasi. Bebicaralah sampai pelaku mau menjawab - ingat didalam fantasinya kita adalah objek yang diam.
Atau berpura-pura menyerah juga pernah dilaporkan bisa menghentikan niat pelaku. misalnya dengan mengatakan : "Baik jika memang kau ingin tubuhku" "Ada berapa uangmu" atau katakan " Ayo kita bersenang-senang - Silahkan pasanglah kondom mu" atau "Kau pasti tidak mau tertular HIV-AIDS dariku kan ?" (AT)