Curang demi prestasi ? Taekwondo bukan lagi alat pembentukan karakter.
Sudah takdirnya kalau orangtua selalu menginginkan yang terbaik buat putra/putrinya. Dan inilah salah satu alasan mengapa banyak orangtua mendaftarkan anaknya ikut kegiatan olahraga – termasuk Taekwondo.
Ternyata semua percaya dan yakin bahwa partisipasi pada olahraga akan membuahkan karakter positif.
Orangtua yang anaknya ikut kompetisi pada satu cabang olahraga akan terus menerus berusaha meng klarifikasi nilai positif yang didapat anaknya apalagi setelah anak ia mendapat sebutan baru dari klubnya : atlet. Akan ditambah lagi saat medali sudah dikalungkan. Toh sebutannya juga sudah bertambah : juara.
“Kepercayaan” ini saya yakin sudah berumur lebih tua dari umur saya. Namun pada kenyataannya riset mengenai partisipasi olahraga prestasi dalam membangun karakter terlalu sedikit dan kita, bahkan malah sering menemukan bukti yang sebaliknya.
Berita pengunaan obat-obatan pemacu pertumbuhan serat otot (anabolic steroids) oleh atlet yang jelas-jelas dilarang dan berbahaya selalu saja menghiasi halaman koran saat ada pesta olahraga baik tingkat dunia maupun di Indonesia.
Pada pesta olahraga tingkat dunia Olimpiade Beijing kita semua terperanjat melihat ulah atlet Kuba yang menganiaya wasit di arena Taekwondo. Bukan cuma itu, coach-nya pun ikut juga memperagakan cara protes yang tidak dikenal dalam peraturan pertandingan taekwondo. Inikah hasil latihan selama ini ?
Perkelahian antar ofisial, kontestan, pemukulan wasit dan cara-cara protes yang kurang sepantasnya dalam pertandingan Taekwondo juga kerap mengisi halaman koran mulai dari tingkat daerah sampai ke tingkat nasional.
Dalam taekwondo kecurangan bahkan sudah dilakukan sebelum bertanding. Bukan rahasia lagi di kalangan masyarakat Taekwondo untuk menghalalkan segala cara demi kemenangan seperti pemalsuan umur, pemalsuan sertifikat, perpindahan atlet antar daerah (karena iming-iming daerah kaya).
Curang saat pertandingan Taekwondo dalam beberapa kasus sering disebut sebagai strategi. Semacam dosa tapi dosa putih. Berikut beberapa diantaranya : mulai dari yang sebatas pura-pura cedera, menendang bagian terlarang, menyerang dengan tujuan merusak sampai meng-intimidasi wasit. Yang terakhir ini biasanya dilakukan oleh suporter.
Apakah berbuat curang masih menjadi kata yang paling memalukan dalam pembinaan Taekwondo kita ? Maaf, sangat diragukan. Kita tentu pernah mendengar salah satu slogan olimpiade yang terkenal “Fair Play”. Slogan ini mungkin sudah tidak berarti apa-apa lagi sekarang. Sekarang pilihan kita tinggal dua : menutup atau membuka mata. Terserah namun pastikan anda menggunakan mata hati anda.
Fakta-fakta diatas hanyalah sebagian dari contoh kegagalan kita sebagai masyarakat olahraga – khususnya Taekwondo - dalam ikut berperan membentuk karakater bangsa.
Kenapa karakter itu penting? Kita tentu masih ingat kerusuhan di Jakarta dan beberapa kota di Indonesia tahun 1998 bukan? Dari bangsa yang bermartabat dan rakyat yang terkenal ramah dan penuh senyum sekejap kita menjadi bangsa yang kerdil, penuh dendam,permusuhan dan kebencian.
Budaya korupsi adalah bukti bagian dari gagalnya pendidikan karakter bangsa ini. Korupsi ternyata melingkup karakter negatif seperti : ketidak jujuran, ketidak disiplinan dan menghalalkan segala cara. Hasilnya, peringkat korupsi kita pada 2002 menjadi nomor satu ! (Data Transparancy International 2002).
Pertanyaannya sekarang adalah, apakah Taekwondo masih dapat diandalkan menjadi alat pembentuk karakter siswa putra-putri kita?
Pernahkah kita membayangkan bahwa kesenangan berolahraga anak telah kita hancurkan hanya demi medali ? Bagi beberapa pelatih dia hanya mengenal satu alat ukur : medali. Tidak penting siapa atletnya tapi apa prestasinya.
Saya pernah mendapat wejangan dari seorang pembina olahraga yang menyatakan tidak penting apakah atlet itu narapidana sekalipun tapi jika dia berpotensi emas maka atlet itu dengan usaha apapun harus menjadi tim daerahnya.
Berlatih Taekwondo bagi anak seyogyanya memberinya keterampilan untuk hidup mengenal arti kuat dan lemah diri , membangun percaya diri dan tentunya terampil beladiri. Dilain pihak bagi tugas orangtua mendampingi anak dalam olahraga prestasi adalah untuk memastikan perkembangan putra/putrinya serta menjamin ia berlatih dengan hati yang senang.
Akan datang waktunya kita melihat siswa atau putra/putri kita berkembang jauh diatas rata-rata siswa lain dan ia berbakat maka pastikan ia menang karena ia memang pantas menang bukan karena main curang.
Olahraga – termasuk Taekwondo – jika dilakukan dengan benar kami percaya secara bertahap akan menanamkan kejujuran, rasa hormat dan dasar moral karakter yang terbaik bagi siapapun yang mempelajarinya.
Sadarlah bahwa apa yang kita kerjakan selama ini dalam pembinaan prestasi sudah melenceng dari tujuan dan ikrar Taekwondo. Marilah kita tolak main curang walau tebusannya kita kalah. (Andre Tuwaidan)